Profile

A freaky blogger, and an active blog-reader whose have a name often called with SICIL. I am 16 years old female. I love reading novels, and I drink tea. I just love the art. I love doodling random things that came from my mind. I am often chatty and simple minded, and the internet attracts me more nowadays.

Twitter Facebook Message

Disclaimer

In this disclaimer, I wanted to welcome you in my blog and thanks for passing by or visiting by any chance in here. The rules are as usual, no spamming or stealing nor copycatting. You may take inspiration, but don't expect from me too much. I do by my own creativity and I used my brain. Plagiarism are a terrible language, so I suggested for you not to use plagiary words nor accents. Hope you noted it.

Tagboard


Archives


  Recent posts:

  • Acceleration's Vacation @ Batu Malang :)
  • Selamat Tahun Baru Hijriyah
  • CONFUSED [!!]
  • 1st Corel Test :)
  • Status Gunung Bromo Awas, PMI Siap Dirikan Posko
  • Kontestan Idol China Meninggal dalam Operasi Plast...
  • SELAMAT HARI GURU NASIONAL
  • Kreasi Baru :)
  • Honey
  • Today : BAD DAY [!!]


    Credits

    Layout: Nicole and Dirah.
    Resources: Soonei and Sugarpink.

    Read the Printed Word!

  • Semua Akan Indah Pada Waktunya...
    Senin, 13 Desember 2010 @ 18.27 | comment (0)

    Hari ini tepat satu tahun lo ninggalin kita, Fa...
    Tepat satu tahun sejak lo nyatuin hati kita...

    Radit menutup buku hariannya, mengalihkan pandangannya ke seseorang di sampingnya yang sedari tadi merangkul bahunya manja. Perempuan di sampingnya itu tersenyum.
    “Daffa pasti sudah bahagia di sana, sayang. Percayalah, “ ujar Ory.
    Radit menyandarkan kepalanya di bahu Ory. Dia tidak pernah merasa serapuh ini di depan ceweknya. “Aku percaya, sayang. Aku percaya Daffa sudah mendapatkan bidadari surga...” Radit menghela nafas. “Secantik kamu....”

    ***
    Rintik hujan mulai turun. Membasahi Ory yang sedang duduk termenung di taman komplek kostnya. Dia menunggu Radit. Ya, Radit. Seorang teman yang saat ini tengah mengisi hatinya.
    Hari ini Radit berjanji akan menemaninya ke dokter. Radit bilang, dia kan menjemput Ory sore ini di taman. Namun yang ditunggu tak kunjung datang.
    “Mungkin dia sibuk,” batin Ory. Ory mencoba positif thinking. Tapi sesungguhnya ia tak mampu menyembunyikan gejolak di hatinya.
    Ory percaya Radit akan mencintainya, seperti dia mencintai Radit. Tapi semakin siang, keyakinan Ory semakin luntur. Harapannya untuk menjaga satu-satunya di hati Radit mulai pupus. Di tambah semakin lamanya dia menunggu di tempat itu, tapi Radit tak kunjung datang...
    Pandangan Ory mulai kabur. Rasa dingin yang sejak tadi menderanya semakin menusuk tulang. Sementara atasan lengan panjang berlapis jaket tebal yang dikenakannya sudah basah kuyup. Tangannya meraba tas, mencoba mengambil sesuatu, tapi sesuatu yang dia cari tak kunjung ia temukan. Ory semakin gelisah. Tubuhnya pun semakin melemah. Tak sadar darah mulai mengucur dari lubang hidungnya. Dadanya sesak, sakit, ngilu. Refleks Ory memegangi dadanya. Ory kesakitan. Tapi senyumnya kembali mengembang ketika tiba-tiba muncul bayangan Radit. Entah itu kenyataan, atau khayalannya saja... Dan semuanya menghitam...

    ***

    “Daffa mana, Dit.. Kenapa dia ngga jengukin aku?”
    “Daffa? Engg... Daffa.. Daffa....”
    Braakk!!
    “Tante??”
    “Ory, Radit, tolong kalian ke kamar Daffa sekarang ya. Daffa ingin bertemu kalian.”
    Dit, Daffa kenapa?”
    “Aku jelasin di sana. Kamu pake kursi roda ya, kita ke sana.”
    “Tapi Dit.. Daffa kenapa?”

    ***

    “Radit!! Kenapa kamu ngga kasih tau aku, Dit?? Kenapa??” kelopak mata Ory mulai penuh dengan air mata. Ory memukul dada Radit. Tapi Radit hanya terdiam. Membisu.
    “Aku minta maaf Ry.. Aku minta maaf. Ini semua gara-gara aku. Coba kalo sore itu ngga lupain janji kita untuk ketemu di taman... Pasti ngga kaya gini...” ujar Radit datar.
    “Tapi Daffa kecelakaan waktu nganter aku ke rumah sakit, Dit.. Dan kamu ngga kasih tau aku...” Ory menangis sesenggukan.
    Beberapa detik Radit terdiam. Kemudian dia mendekap Ory erat. “Sebelum Daffa meninggal, dia udah nyadarin aku, Ry.. Bikin aku sadar kalo aku cinta ama kamu.. Aku sayang kamu, Ry... Aku sayang kamu...,” Radit mulai menangis. “Jangan pergi. Jangan tinggalin aku. Aku udah kehilangan Daffa. Aku mohon kamu jangan pergi.”
    Ory yang awalnya meronta, terdiam. Tangannya mulai membalas dekapan Radit.”Aku juga sayang kamu, Dit...”

    ***


    Dear Ory..
    Maafin aku..
    Aku ngga sempat pamit ama kamu. Aku ngga sempet bilang kalo aku mau pergi. Aku belum sempet bilang ama kamu kalo aku sayang ama kamu, Ry.. Sungguh rasa cinta yang mungkin ngga akan pernah terbalas, karena aku tau kamu cuma mencintai Radit.
    Radit mencintai kamu, Ry.. Radit menyayangi kamu. Kamu harus percaya itu. Radit cuma ngga tau gimana caranya ungkapin ke kamu. Bahkan di saat terakhirku bersamanya, Radit baru sadar kalo selama ini dia mencintai kamu...
    Sejak saat itu, aku tenang, Ry. Aku sudah bisa pergi meninggalkan kalian. Karena aku yakin, Radit bisa bikin kamu bahagia, ya kan??
    Semoga cinta kalian tetap abadi hingga kutemui kalian di sini nanti... J

    Yang menyayangimu,
    Daffraza Maulana

    ***

    Ory meletakkan kembali bingkai foto itu di atas meja setelah lama ia mendekapnya.
    Radit tersenyum puas. Puas karena ia telah melakukan pesan terakhir sahabatnya, karena ia telah berhasil menjaga Ory sampai sejauh ini..

    “Selamat jalan, Daffa.. Semoga Kau mendapat tempat terindah di atas sana.. We love u...”

    Label: , ,